RANGKUMAN MATERI SOSIOLOGI KELAS 10 KURIKULUM MERDEKA

A. Pengantar Sosiologi: Kelahiran dan Kajian Sosiologi Sosiologi sebagai ilmu berkembang dari kegelisahan para pemikir mengenai dinamika masyarakat dan perubahan sosial yang terjadi, khususnya selama periode Revolusi Industri dan Revolusi Perancis. Sosiologi mencoba menjawab bagaimana masyarakat berubah, alasan di balik perubahan tersebut, dan bagaimana individu berinteraksi dalam konteks sosial yang lebih luas. Tokoh-tokoh seperti Auguste Comte, yang dianggap sebagai bapak sosiologi, Karl Marx, Emile Durkheim, dan Max Weber, memberikan kontribusi signifikan dalam pengembangan teori-teori sosiologi. Mereka mengeksplorasi struktur sosial, konflik, interaksi sosial, dan pemahaman mendalam tentang tindakan sosial.

B. Sosiologi Sebagai Ilmu yang Berparadigma Ganda George Ritzer dalam bukunya "Sociology: A Multiple Paradigm Science", menjelaskan bahwa sosiologi memiliki beberapa paradigma atau kerangka berpikir, yang menjadikan sosiologi sebagai ilmu yang kaya dan dinamis. Paradigma tersebut meliputi paradigma fakta sosial, yang menekankan pada struktur sosial dan proses dalam masyarakat; paradigma definisi sosial, yang fokus pada pemahaman dan interpretasi simbolik; dan paradigma perilaku sosial, yang menekankan pada tindakan dan perilaku individu dalam masyarakat. Setiap paradigma menawarkan perspektif berbeda dalam memahami fenomena sosial.

C. Penelitian Sosial Penelitian sosial merupakan bagian penting dalam sosiologi untuk mengumpulkan data, menguji teori, dan membentuk pemahaman baru mengenai fenomena sosial. Metode penelitian sosial mencakup metode kualitatif, kuantitatif, dan campuran. Metode kualitatif berfokus pada pemahaman mendalam tentang fenomena sosial melalui wawancara, observasi, dan studi kasus. Metode kuantitatif menggunakan pengumpulan data numerik untuk menganalisis pola dan hubungan antarvariabel. Metode campuran menggabungkan kedua pendekatan tersebut untuk memberikan pemahaman yang lebih lengkap.

D. Tindakan Sosial, Interaksi Sosial dan Identitas Bagian ini menjelaskan tentang konsep tindakan sosial Max Weber, interaksi sosial, serta konstruksi identitas sosial. Tindakan sosial didefinisikan sebagai tindakan yang dilakukan individu dengan mempertimbangkan perilaku orang lain. Interaksi sosial merupakan proses timbal balik antarindividu yang membentuk struktur sosial. Identitas sosial berkaitan dengan bagaimana individu mengidentifikasi diri mereka dalam konteks sosial.

E. Lembaga Sosial Lembaga sosial dijelaskan sebagai struktur dalam masyarakat yang memenuhi kebutuhan sosial, seperti keluarga, pendidikan, agama, pemerintahan, dan ekonomi. Masing-masing lembaga memiliki fungsi tertentu dalam menjaga stabilitas dan keteraturan sosial.

  1. Empiris berarti sosiologi menghasilkan teori dan temuan melalui penelitian ilmiah seperti pengamatan, wawancara, dan analisis fakta sosial secara ilmiah, bukan berdasarkan asumsi atau dugaan.
  2. Teoritis artinya sosiologi berusaha menyusun temuan dan kesimpulan, serta menjelaskan hubungan sebab-akibat dan korelasi antar variabel melalui penelitian ilmiah.
  3. Kumulatif berarti teori dalam sosiologi senantiasa berkembang dan dinamis sesuai dengan dinamika masyarakat, bahkan teori yang sudah ada dikaji ulang untuk melihat relevansinya.
  4. Non Etis berarti sosiologi bukan ilmu yang mempersoalkan benar atau salah, baik atau buruk, tetapi berusaha menjelaskan dan mengungkapkan berbagai gejala atau masalah sosial.

• Sosiologi menurut Selo Soemardjan dan Soelaeman Soemardi adalah ilmu kemasyarakatan yang mempelajari struktur sosial dan proses-proses sosial termasuk perubahan sosial. • Sosiologi menurut Roucek dan Warren adalah ilmu yang mempelajari hubungan antara manusia dalam kelompok. • Sosiologi menurut Paul B. Horton dan Chester L. Hunt adalah ilmu yang mempelajari masyarakat. Bagi Horton dan Hunt (1987), masyarakat adalah sekumpulan manusia yang secara relatif mandiri, hidup bersama-sama dalam jangka waktu yang cukup lama, mendiami suatu wilayah yang sama, memiliki kebudayaan yang sama dan melakukan sebagian besar kegiatannya dalam kelompok tersebut.

Untuk terjadinya interaksi sosial, diperlukan dua syarat utama:

  1. Kontak sosial Kontak sosial merupakan syarat awal terjadinya interaksi sosial. Kontak dapat bersifat fisik (bertemu langsung) atau non-fisik (melalui media seperti telepon, internet, dll).
  2. Komunikasi Komunikasi melibatkan penyampaian informasi timbal balik, baik melalui kata-kata, gerak tubuh, simbol, atau tanda-tanda lain yang memiliki makna. Komunikasi membedakan interaksi sosial dari sekedar kontak biasa.

Teks memberikan ilustrasi seorang murid bernama Ali yang menyanyi di kelas. Ini hanya tindakan biasa. Namun jika Ali bernyanyi untuk menghibur temannya Boy, maka tindakan tersebut menjadi tindakan sosial karena memiliki makna subjektif terkait orang lain. Ketika Boy merespon dengan tepuk tangan, barulah terjadi interaksi sosial yang timbal balik.

Teks juga memberikan contoh interaksi di jalan seperti dengan pengemis, polisi lalu lintas, atau ambulans yang menggunakan simbol-simbol komunikasi.